Wednesday, 6 August 2008

Ramadhan in Hanoi

Kali ini blogger ingin menulis tentang pengalaman pribadi, bagaimana bisa survive melalui 10 kali Ramadhan di Hanoi?

Tulisan ini sekaligus merupakan jawaban blogger kepada beberapa teman dari tanah air yang mengirimkan email dan menanyakan, adakah kegiatan (muslim) selama Ramadhan di Hanoi? Semoga tulisan ini juga bermanfaat bagi siapa saja yang kebetulan akan melewati (masa) Ramadhan di Hanoi, Vietnam.

Insya Allah, bila anda berasa di Hanoi (dan sekitarnya) pada saat Ramadhan tahun ini (1429H) maka pada saat itu, menurut istilah blogger masih terimbas atau berada, di (penghujung) musim panas. Bukan musim dingin! Apa bedanya? Apabila Ramadhan berada di musim panas maka anda akan berpuasa dalam rentang waktu lebih lama ketimbang di musim dingin.

Harap dicatat bahwa saat Maghrib (buka) nanti berkisar pukul 18.12 (awal Ramadhan) – 17.45 (akhir Ramadhan), sedang saat Shubuh (sebagai patokan Imsyak 10 menit sebelumnya) berkisar pukul 04.25 (awal Ramadhan) – 04.34 (akhir Ramadhan).


Buka puasa, Terawih dan Sahur

Adalah umum bagi orang yang berpuasa untuk mencari tahu (informasi) seputar bagaimana melakukan ‘buka’ dan ‘sahur’ bila sedang bepuasa (Ramadhan) di Hanoi?

Tahun lalu ada restoran yang buka pada saat ‘buka dan ‘sahur’ di Hanoi, yaitu Restoran Nisa, yang merupakan satu-satunya restoran halal saat itu. Namun, saat ini telah ada dua restoran baru yang menyediakan makanan halal, yaitu Restoran Malaysia in Hanoi dan Restoran Sri Belango. Blogger belum tahu pasti, apakah mereka (kedua restoran baru itu) akan buka untuk menyediakan makan sahur? Silakan mengontak (telepon) mereka untuk memastikannya. Alamat dan nomor telepon ketiga restoran itu dapat anda peroleh detailnya di sini.

Namun demikian apabila anda beruntung, blogger menggunakan istilah beruntung karena itu sangat tergantung, dapat juga mengikuti kegiatan buka bersama (berikut shalat terawihnya) yang diadakan oleh Masyarakat Indonesia (masyindo) Hanoi. Biasanya masyindo melakukan kegiatan (Ramadhan) itu di Mushola At-Tauhid, KBRI-Hanoi.

Kenapa blogger menggunakan istilah ‘sangat tergantung’? Itu memang benar adanya. Maksudnya, kegiatan Ramadhan oleh masyindo di Hanoi itu sangat tergantung kepada adanya person (in charge) yang menggerakkannya. Pada suatu masa blogger mengalami bahwa 3 kali dalam seminggu masyindo melakukan buka puasa, terawih dan taddarus di Muasholla At-Tauhid itu. Tetapi pada masa yang lain bahkan tidak ada kegiatan Ramadhan sama sekali. Oleh sebab itu, bila anda berada di Hanoi dan sedang mencari info tentang kegiatan Ramadhan, ada baiknya menghubungi Azhar Rizal atau Raihan Khumaini (KBRI-Hanoi) untuk memastikan ada-tidaknya kegiatan Ramadhan di Musholla At-Tauhid itu.

Selain itu, anda juga dapat mendatangi satu-satunya masjid di Hanoi, yaitu Masjid An-Noor yang beradan di Jalan Hang Luoc No. 12, Hanoi. Sepanjang yang blogger alami, mereka selalu mengadakan Sholat Terawih bersama. Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, biasanya mereka mengadakan buka bersama, dimana makanan bukanya (iftar) merupakan persembahan dari beberapa negara perwakilan yang ada di Vietnam. Blogger sangat menyukai saat-saat itu karena bisa mencoba aneka masakan dari beberapa negara yang berbeda (dilakukan tiap hari secara giliran di 10 hari terakhir Ramadhan), misalnya: Aljazair, Brunei Darussalam, Indonesia, Iran, Libya, Malaysia, Pakistan, dll.


Idul Fitri

Ya, kita bisa melaksanakan Sholat Ied di Masjid An-Noor bila anda sedang berada di Hanoi. Untuk itu harap mendatangi masjid untuk mengkonfirmasikan jadual pelaksanaannya yang pasti. Sebab, adakalanya pelaksanaan Sholat Ied itu berbeda (waktunya karena perhitungan hijriyah yang berbeda) dengan yang dilakukan di tanah air.

Bagaimana dengan Halal bi Halal? Hampir serupa dengan kegiatan Ramadhan, maka kegiatan Idul Fitri (Halal bi Halal) juga sangat tergantung. Tetapi, hampir setiap tahun KBRI-Hanoi selalu mengadakan Halal bi Halal yang biasanya diadakan langsung setelah usai sholat Ied. Beberapa tamu dari mancanegara (perwakilan beberapa negara) juga turut memeriahkan dengan hadir di acara Halal bi Halal yang diadakan oleh KBRI-Hanoi. Tak ketinggalan, beberapa masyindo juga mengadakan Halal bi Halal di kediamannya dengan mengundang masyindo maupun tamu-tamu mancanegara.

:: dok. pribadi :: Halal bi Halal Masyindo di kediaman Ketua Pehimpunan Masyarakat Indonesia (Permai) Hanoi


:: dok. pribadi :: Halal bi Halal masyindo di KBRI-Hanoi

Sebagai penutup tulisan, blogger ingin merekomendasikan agar anda berbekal makanan (lauk) kering siap santap ie. sambal goreng kacang-teri, sambal goreng kentang kering, serundeng, rendang, ataupun bumbu pecel agar anda ‘survive’ menjalani Ramadhan di negeri Paman Ho (Chi Minh) itu. Insya Allah! [rpi]

Monday, 23 June 2008

Sorry, its not halal!


"Kenapa blogger tidak pernah menulis tentang makanan Vietnam?"


Itu adalah salah satu pertanyaan melalui email kepada blogger. Jawaban blogger berikut ini mungkin tidak memuaskan. Maaf. Tetapi, bagi rekan muslim pasti dapat memahaminya. Alasannya, tentu saja “Halalan Thoyyibah”! Maksudnya, sangat sulit bagi blogger menulis sesuatu yang blogger sendiri tidak mengalaminya dan mengetahui dengan persis. Itu karena hampir sebagian besar makanan Vietnam mengandung bahan-bahan (konten) ataupun proses yang tidak halal bagi seorang muslim untuk mengonsumsinya.

Bahkan, terkadang sebutan atau nama makanan itu saja sudah mengecoh kita. Sebagai contoh, “Shrimp Spring Rolls” atau (Goi Cuon). Sepintas kalau mengetahui namanya saja, kesannya makanan itu tidak mengandung konten yang tidak halal. Tetapi bagi yang mengetahuinya maka akan menghindari spring roll (lumpia Vietnam) itu karena salah satu kontennya adalah daging babi cincang (ground lean pork). Banyak kawan Vietnam yang memastikan hal itu, tentang proses pembuatan dan konten dari lumpia Vietnam yang sangat diragukan kehalalannya itu.

Beberapa contoh lain. Tentu anda sangat mengenal nasi goreng bukan atau disebut “Com Rang” (dalam bahasa lokal). Kalau di Indonesia, campurannya paling hanya irisan daging ayam dan beberapa macam sayuran. Tetapi kalau di Vietnam, masih ditambah dengan potongan (sangat kecil) sosis babi. Ada pengalaman pribadi tentang hal ini. Suatu ketika saya menghadiri acara, katakanlah sebuah seminar yang membahas tentang perdagangan bilateral. Ketika itu saya sempat melakukan konfirmasi ke panitia bahwa makanan yang disajikan semuanya halal. Saya cukup senang dengan konfirmasi itu. Lalu, tibalah saat penyajian makanan ke masing-masing meja. Kebetulan saya duduk bersebelahan dengan beberapa kawan asing, diantaranya Vietnamese. Salah satu hidangan yang ada di list menu saat itu adalah “Tom Com Rang” (nasi goreng udang). Ketika 'tom com rang' itu disajikan kepada saya, kawan Vietnamese di sebelah saya kontan mengatakan bahwa saya hendaknya tidak memakan sajian itu karena tidak halal konten. Kawan Vietnam itu menunjukkan kepada saya potongan kecil sosis babi yang selintas seperti potongan sosis daging umumnya di nasi goreng yang di hidangkan di piring saya. Astaghfirullah!


Chao Tom. Ini mirip sate pasta udang yang menggunakan batang tebu sebagai pengganti tusuk satenya. Ternyata untuk membuat makanan ini diperlukan campuran lemak babi (silakan cek di sini: http://www.ivietbusiness.com/vietnamese-food-recipe.htm#Barbecued%20Shrimp%20Paste%20on%20Sugar%20Cane%20(Chao%20Tom).

Ca Khoto. Ini adalah sejenis ikan yang dimasak di dalam kuali kecil. Sepintas konten makanan ini hanya ikan dan bumbu-bumbu nabati saja. Tetapi, sebagai pengganti minyak untuk memasak ikan ini digunakanlah lemak (gajih) babi.

Masih banyak jenis makanan lain yang tidak halal, baik proses maupun kontennya. Itulah mengapa blogger tidak dapat membuat tulisan tentang makanan Vietnam di blog ini. Mohon memakluminya.
Namun demikian, bukan berarti tidak ada makanan halal yang dapat anda temui bila sedang berada di Hanoi. Berikut ini beberapa tempat yang menyediakan makanan halal:
[rpi]
Catatan: foto-foto di tulisan ini merupakan koleksi dari http://overlandclub.jp/ryouri

Friday, 30 May 2008

Soto Ayam di Hanoi

Soto?


Ya, soto.


Soto ayam! Halalan thoyyibah pula.


Apa istimewanya sih? Sangat istimewa. Apalagi, bila anda berada jauh dari negeri sendiri, jauh dari sanak keluarga, dan tidak memiliki cukup fasilitas untuk membuat (baca: memasak) soto. Salah satu yang sudah pasti, adalah sangat sulit mendapatkan ‘kemiri’, ingredient utama, untuk bikin soto di negeri Paman Ho.

Nah, berbekal informasi yang saya peroleh melalui web-log-nya masyindo (masyarakat Indonesia) Vietnam, meluncurlah saya ke sebuah restoran di pinggirian Danau Truc Bach, Ba Dinh, Hanoi. Restoran yang beralamat di Jalan Tran Vu 136E itu bernama “Malaysia in Hanoi”. Pemiliknya seorang ibu bernama Aspalela Abdullah, asli warga negara Malaysia. Namun demikian, chef restoran itu asli warga Indonesia, bernama Rohman. Maka jangan heran bila beberapa menu makanan atau ketika anda mencoba makanan disana nanti sangat bercitarasa Indonesia. Atau, Indonesia bangets …




Restoran (halal) Malaysia in Hanoi, 136E Tran Vu, Truc Bach Lake, Ba Dinh District, Ha Noi [dok.rpi]


Setelah mempelajari dengan seksama daftar menu yang disodorkan kepada saya, maka saya memutuskan untuk mencoba ‘Soto Ayam’ saat pertama mengunjungi restoran yang berada di lantai dasar dari sebuah apartemen sewa itu. Sejak itu, setiap berkunjung ke tempat itu, saya selalu memesan soto ayam. Alasannya? Mudah saja. Tidak ada satu restoranpun di Hanoi yang menyajikan menu soto ayam. That’s it! Lagipula, rasanya juga mak nyus bangets. Bumbu-bumbunya kerasa bangets. Saya jadi teringat akan soto ayam langganan saya dulu di kawasan Blok-M, Jakarta Selatan. Mungkin ‘tukang soto’ yang biasa mangkal tak jauh dari pasar (kagetan) kue pagi di Blok-M itu sudah tidak di sana lagi.




Soto ayam dan teh tarik. Hm ........ mak nyussss! [dok.rpi]


Setiap saya datang ke restoran itu, saya selalu disambut dengan senyum khas (bak seorang bapak menyambut kedatangan anaknya) dari Pak Rohman sambil menjabat tangan saya. Sebuah sambutan yang ramah, hangat dan akrab. Setelah menanyakan kabar-berita beliau, saya langsung memesan ‘soto ayam’. Terkadang saya mengikuti Pak Rohman ke dapur untuk mengintip beliau memasak. Dapurnya cukup rapih. Bersih.




Pak Rohman dan asistenya sedang beraksi di dapur restoran Malaysia in Hanoi [dok.rpi]


Soto ayam di restoran yang memiliki view danau yang indah itu selalu disajikan bersama lontong. Lontongnya ‘menyelam’ di dalam kuah soto karena memang tidak disajikan secara terpisah. Hal itu mengingatkan akan daerah asal saya, Jawa Timur. Di Jawa Timur, hampir setiap soto selalu disajikan dengan lontong/nasi yang langsung di dalam kuah (mangkuk) sotonya. Buat saya, itu uenaaaak pol … alias uenaaaak bangets. Hehehe ….. jadi pengen nyobain, kan? Sok … datang saja ke Hanoi!

Haaah ….. jauh amat??? [rpi]

Monday, 24 March 2008

Nikmatnya 'nasgor' di Hanoi

Nasi goreng (nasgor) adalah kegemaran banyak orang di Indonesia. Karenanya tidaklah terlalu sulit untuk menemukan penjual nasi goreng di tanah air. Namun tidak demikian dengan yang dialami blogger anda di Hanoi atau Vietnam.Bukannya itu tidak ada, tetapi kebanyakan dari nasi goreng di sana citarasanya berbeda dengan yang banyak dijumpai di negeri kita. Nasi goreng atau dalam bahasa Vietnamnya “com rang” (baca: kem zang) kalau di Vietnam bumbunya cukup simple. Paling hanya bawang putih dan kecap asin. That’s it.

Kebanyakan nasi goreng di sana menggunakan minyak babi (fat oil) untuk menggorengnya. Atau, kalaupun mereka sudah menggunakan non fat oil, biasanya penjual nasi goreng di sana memberikan campuran berupa potongan ham. Tentu saja itu sebuah masalah bagi blogger maupun kawan-kawan muslim, meskipun bukan persoalan bagi kawan-kawan yang tidak mempersoalkan kehalalan suatu makanan, ketika berkunjung ke Vietnam. Kalau di Indonesia, kebanyakan penjual nasi goreng memberikan campuran potongan daging ayam atau ada juga yang menggunakan daging kambing, seperti nasi goreng kambing di Jalan Kebon Sirih, Jakarta. Ah, jadi teringat kampung-halaman nih.

Kalau anda sebagai seorang muslim yang concern dengan kehalalan suatu makanan, maka saya tidak merekomendasikan anda untuk makan di sembarang restoran ketika anda berada di Vietnam. Carilah info atau tanyakan kepada rekan bisnis atau rekan kontak anda untuk menunjukkan tempat yang menyediakan makanan halal. Ada banyak tempat di Ho Chi Minh City (HCMC) yang menyediakan makanan halal dan ada beberapa tempat di Hanoi. Silakan cek di blog-nya Masyarakat Indonesia – Vietnam, Permai HCMC ataupun Permai Hanoi untuk mendapatkan informasi tempat-tempat (restoran) yang menyediakan makanan halal di Vietnam.


Doc. [http://www.flickr.com/photos/wimar/214404154/] Maaf, saya jadi lupa memoto karena saking keenakan makan nasgor saat itu

Suatu saat kalau anda berada di Hanoi dan sedang kangen dengan nasgor, saya merekomendasikan untuk mencobanya di El Patio, Melia Hotel, Jalan Ly Thuong Kiet, Hai Ba Trung District, Hanoi. Rasanya mantap dan dahsyat. Mirip-mirip nasgor jawa. Maklum chef-nya memang asli Yogyakarta, namanya Pak Wadiono atau sering juga dipanggil Pak Kuat (Bahasa Vietnam: Ong Khoe). Kalau anda jadi ke sana, menurut blogger sepiring nasgor bisa di share untuk dua orang. Porsinya XL, bo! Selain citarasa yang mantap dan dahsyat, khas nasgor jawa, masih ditambahin krupuk udang, 2 tusuk sate daging dan 2 tusuk sate udang lengkap dengan sambal uleg terasi. Blogger berani menjamin itu nasgor terenak di Kota Hanoi, atau bahkan Vietnam. Maaf buat nasgor-nasgor yang di tempat lain. [rpi]

Friday, 14 March 2008

'Halal Pho' in Hanoi

Doc. pribadi/Semangkuk Pho Halal di Nisa 'Halal' Restaurant

'Pho' adalah makanan kegemaran sebagain besar masyarakat Vietnam. Hampir setiap orang yang datang ke Vietnam tidak pernah melewatkan untuk mencoba pho noodle (mie beras). Itu hampir seperti mie ayam atau mie daging di Indonesia, tetapi terbuat dari beras sehingga warna mie-nya putih dan disebut 'Banh Pho'. Cirarasanya sangat khas. Bumbu utamanya selain kaldu (daging) ayam/sapi adalah kayu manis, star anise (semacam minyak sayur), jahe yang dibakar, bawang merah yang dibakar, cengkeh, merica, dan terkadang ditambahin pula kapulaga (cardamom).
Adakah ‘halal pho’ atau pho yang halal di Hanoi? Blogger sering mendapati pertanyaan ini dari tamu yang berkunjung ke Hanoi atau sering juga melalui email dari orang Indonesia yang secara kebetulan browsing ke web-blog ‘Masyindo Vietnam’ ataupun ‘Hanoi DotCom’.

Tentu saja ada. Tetapi itu sangat, sangat dan sangat terbatas. Baik yang menjual pho maupun pilihan pho halal itu sendiri. Salah satu yang menyediakan pho halal di Hanoi adalah Nisa ‘Halal’ Restoran. Pemilik restoran ini adalah Ben Taat Haji Alias, seorang kawan berkebangsaan Malaysia dan beristrikan Adlena Abdullah, orang local (Vietnam).

Pak Ben, begitu blogger biasa memanggilnya, pertama kali blogger kenal saat usai Sholat Jumat di Masjid An-Noor, Hanoi. Mungkin dari beberapa tulisan blogger di web-blog, blogger sering menyebutkan adanya perkenalan saat bertemu di masjid. Ya, memang demikianlah yang diajarkan oleh agama. Bersilaturrahimlah saat berada atau bertemu di masjid.

Suatu ketika kami bertemu lagi karena Pak Ben memerlukan kendaraan dan ingin membeli dari perusahaan tempat blogger beraktivitas (kerja jadi TKI, hehehe ….). Dari bincang-bincang saat transaksi jual-beli kendaraan itu blogger mengetahui bahwa Pak Ben ingin memulai usaha mengelola hotel dan restoran halal di Hanoi. Mengetahui rencana Pak Ben saat itu, blogger girang bukan kepalang. Blogger bilang ke kawan dekat ini, yang pernah malang melintang melatih tim sepak takraw di beberapa negara itu, bahwa blogger sangat mendukung ide itu dan akan membantu sebisanya bila diperlukan untuk menyukseskan pembukaan usahanya itu. Maklum sangatlah sulit bagi orang muslim mendapatkan restoran halal di Hanoi (Vietnam).

Membuka restoran halal, tentu saja merupakan tantangan sekaligus peluang. Maka pada awal 2001 Pak Ben memulai usaha restoran halal sekaligus mengelola Tien Thuy Hotel. Saat itu restoran milik bapak dua anak itu hanya memiliki 4 buah set meja untuk melayani pelanggannya. Menyusul banyaknya pelanggan, terutama para turis yang sedang berkunjung ke Vietnam dan sangat concern dengan halal food, maka sejak pertengahan 2002 restoran itu dipindahkan lokasinya ke tempat yang lebih representative di Jalan Nguyen Huu Huan No. 90, Hanoi di seputaran Hoan Kiem Lake atau Old Quarter.

Kiranya memang tidak salah kalau blogger sebutkan sebagai peluang. Betapa tidak? Pada saat untuk pertama kali Sea games diadakan di Vietnam tahun 2003, dengan basis kegiatan di Hanoi, maka restoran yang baru-baru ini merekrut seorang manajer (Mohd Azhar Bin Haris) dari Malaysia itu menjadi rujukan pertama dan utama bagi sebagaian besar kontingen tim sea games untuk memperoleh makanan halal. Subhanallah! Dan, sejak saat itu pula restoran milik bapak yang selalu ramah kepada siapa saja itu seolah menjadi icon restoran halal di Hanoi.
Perlu dituliskan juga di sini bahwa Nisa Restaurant itu tidak hanya menyediakan pho, tetapi berbagai masakan lainnya yang merupakan masakan khas Malaysia, Indonesia dan India. Sekedar menyebut beberapa masakan favorit blogger: nasi lemak, kari ikan, sup daging, sate ayam dan nasi goreng seafood.

Doc. pribadi/Dengan melakukan usaha yang halal, semoga mendapatkan banyak barokah

Adakah tempat lain yang menyediakan pho halal di Hanoi? Ya, ada satu lagi. Namanya restoran Malaysia Halal Cuisine yang terletak di 136 E Tran Vu, True Bach, Ba Dinh District, Hanoi. Blogger akan membuat tulisan tentang tempat ini pada kesempatan lain.

Oh ya, bagi pembaca muslim yang kebetulan berkunjung ke Nisa Halal Restaurant, sempatkan untuk mengisi kotak amal jariyah di sana. Jazakumullah. [rpi]


Doc. pribadi/"Assalamualaikum" ... itulah ucapan khas Pak Ben ketika menyambut tamunya datang ke restorannya.

***************************

Alamat lengkap Nisa "Malaysian, Indonesian & Indian cuisine" Restaurant:

90 Nguyen Huu Huan Street, Hoan Kiem District, Hanoi - Vietnam

Tel. (+844) 9261859; Fax. (+844) 9261916

Email: nisarestaurant@yahoo.com.sg atau bentaat@gmail.com

Website: www.nisa-restaurant.com

Tuesday, 11 March 2008

Oh Shalimar ...


Doc. pribadi/Restoran Masakan India/Pakistan "Shalimar" di malam hari


Mengunjungi teman selalu merupakan saat yang paling menyenangkan bagi saya. Selain dapat bertemu muka langsung (silaturrahim) juga dapat berbagi cerita, pengalaman, dan informasi (yang berguna) lainnya.

Menyusul adanya pertanyaan dari seorang kawan lewat email, yang menanyakan soal restoran halal di Hanoi, saya menyempatkan untuk bersilaturrahim ke teman lama, Raja Ali namanya. Maksud kunjungan itu, tentu saja, selain silaturrahim juga untuk memastikan apakah restoran yang dimiliki oleh Raja Ali itu masih ‘baik-baik’ saja? Saya mengenal pemilik restoran Shalimar, Hanoi itu 3 tahun lalu. Saat itu kami secara kebetulan bertemu di masjid An-Noor seusai Sholat Jumat. Kala itu setelah saling mengenal, kami sampai pada pembicaraan hangat bahwa kawan itu ingin membuka usaha restoran halal di Hanoi. Tentu saja, mengetahui rencana tersebut, sebagai seorang muslim saya menyambutnya dengan sangat gembira mengingat restoran halal di Hanoi sangat-sangat langka. Awalnya kawan yang pernah berprofesi sebagai ahli keuangan di London, Inggris itu memulai usaha restorannya di sebuah kawasan baru (orang Hanoi menyebutnya sebagai Thang Long Village) dekat Cau Giay. Setahun di tempat itu, kemudian kawan yang juga menekuni bisnis batu marmer itu memindahkan restorannya ke jalan Ma May No. 63 di kawasan Hoan Kiem Lake. Sejak menempati lokasi baru itu usaha restorannya semakin maju dan berkembang.



Doc. pribadi/"Best Indian/Pakistasni Curry House", adalah klaim pemiliknya

Namun sayang. Nampaknya disanalah awal persoalan muncul. Di pertemuan minggu malam itu, saya mendapat kabar ‘kurang baik’ dari Raja Ali. Menurutnya, tempat yang berukuran seluas hanya 60 meter persegi yang disewa untuk usaha restorannya itu tidak akan diperpanjang lagi sewanya oleh sang pemilik. Empunya tempat itu bermaksud membuka usaha restoran untuk anaknya di tempat itu juga. Sial bukan? Tadinya ruangan itu hanyalah ruang kosong di lantai dua, sedang di bawahnya digunakan untuk kantor oleh sebuah agen perjalanan (wisata). Nah, rupanya, sejak tempat kosong itu dijadikan usaha restoran dan banyak pengunjungnya, pemilik tempat itu juga tertarik untuk membuka usaha restoran. Maka sejak pertengahan maret 2008 nanti, suka tidak suka kawan saya itu harus pindah.

Saya tidak kaget ketika mengetahui bahwa harga sewa sepetak tempat di lantai dua untuk usaha makanan halal itu sebesar USD 1.000/perbulan! Itu karena memang harga sewa tempat di Hanoi, lebih-lebih Ho Chi Minh City (HCMC), termasuk salah satu yang tertinggi (termahal) di kawasan Asia Pacific. Sebagai sedikit info bagi yang ingin buka usaha dan memerlukan tempat bahwa harga sewa tempat untuk ukuran sekitar 20 meter persegi, khususnya di kawasan Hoan Kiem Lake atau old quarter, adalah mulai dari USD 1.200/perbulan. Bahkan menurut Raja Ali di daerah sekitar Bic-C (Trung Hoa) harga sewa tempat untuk ukuran sekitar 100 meter persegi adalah sebesar USD 6.000/perbulan! Alamak, itu artinya sama mahalnya dengan di daerah Hoan Kiem Lake atau old quarter dong? Menurut laporan CB Richard Ellis Vietnam (property agent) bahwa rata-rata harga sewa tempat di Hanoi berkisar USD 30-40/sqm/bulan.

Kembali ke laptop, hehehe … maksud saya ke persoalan pindah tempat usaha restoran tadi. Hingga saat ini tempat yang diinginkan untuk meneruskan usaha restoran itu belum berhasil ditemukan oleh Raja Ali. Dengan demikian maka kawan ini ‘terpaksa’ akan menghentikan usahanya setelah 15 Maret 2008 nanti. Oh Shalimar ...

Doc. pribadi/Berfoto bersama Raja Ali, pemilik restoran Shalimar Hanoi


Sungguh itu suatu siatuasi yang sangat disayangkan. Lebih-lebih bagi penyuka (concern) makanan halal. Oleh karenanya, melalui tulisan ini, blogger ingin mengajak pembaca yang budiman untuk berbagi informasi apabila menemukan tempat yang kiranya cocok untuk usaha restoran masakan India/Pakistan. Tempat yang diinginkan adalah masih di sekitar tengah kota Hanoi, tidak terlalu besar, kira-kira seukuran 40 meter persegi sudah cukup memadai. Silakan mengontak blogger melalui email: anhpandji@gmail.com. Maukah anda? Terimakasih. [rpi]

Saturday, 1 March 2008

'Lebaran' TET [Bagian 5 - Banh Chung]

Doc. nn/aneka Banh Chung dan Banh Day


Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari 5 tulisan sebelumnya, yang terdiri dari:

Bagian 1 – ‘Lebaran’ TET di Vietnam
Bagian 2 – Dewa Dapur
Bagian 3- Chuc Mung Nam Moi
Bagian 4 – Peach Blossoms

Alkisah. Hehehe … kayak dongeng sebelum bobo ya? Pada jaman dahulu kala, Raja Hung Vuong VI dari Dinasti Hong Bang, memutuskan untuk lengser dari tahta kerajaan setelah berhasil memukul mundur pasukan pengacau/penjajah (invader) China dari daratan Vietnam.

Tibalah saatnya bagi baginda raja untuk menunjuk pengganti raja sehingga beliau bisa menikmati sisa hidup dengan santai, santai dan santai. Nyamanlah, pokoknya. Kalau jaman sekarang mungkin hari-harinya akan diisi dengan rekreasi, main golf, berenang bareng sang permaisuri. Hehehe … ajiib banget yah?

Ya, sebagai kelanjutan dari kepustusan itu, baginda raja memerintahkan hulubalangnya untuk memanggil semua putra raja, yang saat itu sudah menjabat sebagai pangeran di beberapa bagian kerajaan. Baginda raja bertitah, “ Beberapa waktu yang lalu, para pendahulu kita telah mengabdikan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk menyejahterakan rakyat, sehingga pada saat ini rakyat dapat hidup dalam kecukupan, aman dan makmur. Saya ingin kalian semua mengingat jasa besar para pendahulu kita dan kalian harus siap untuk menunjukkan diri kalian sebagai generasi penerus yang siap dan cakap dalam memimpin tampuk tahta kerajaan”.

Baginda raja berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Sebagaimana kalian ketahui, saya sekarang semakin tua. Saya berencana menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu dari kalian. Tetapi saya belum mengetahui siapa salah satu dari kalian yang memiliki kebijaksanaan dan kepemimpinan yang pantas meneruskan tahta kepemimpinan kerajaan ini. Baiklah, saya ingin menguji kesiapan diri kalian, kiranya siapa yang paling memiliki kerendahan hati dan nurani untuk memimpin. Siapa saja diantara kalian yang dapat menyajikan persembahan yang dapat memuaskan para leluhur dan memnuhi selera saya akan menerima tahta kerajaan”

Menyusul titah baginda raja itu, setiap pangeran menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk berkelana ke pelosok-pelosok wilayah kerajaan untuk mencari makanan yang paling eksotis, tidak biasa, sebagai persembahan mereka kepada para leluhur dan baginda raja. Diantara beberapa pangeran, Tiet Lieu adalah pangeran yang termuda dan tidak berpunya alias termiskin Namun demikian, dialah yang paling mengabdikan diri kepada kerajaan dan berperilaku terpuji (budiman, rendah hati). Tidak seperti kakak-kakaknya, dia tinggal bersama ayahnya, baginda raja. Tetapi karena begitu miskinnya sehingga tidak memiliki kemampuan untuk membeli dan menyiapkan suatu hidangan yang mewah sebagai persembahan. Dia sangat sedih dan kuatir karena tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya. Itu bukan karena dia menginginkan tahta kerajaan. Dia hanya ingin membuat ayahnya senang.

Pada suatu malam ketika dia berpikir lagi bagaimana membuat ayahnya senang, Tiet Lieu kelelahan dan tertidur. Dalam tidurnya, dia melihat seorang kakek tua dengan rambut putih keperakan menghampirinya dan berkata,

“Ketulusan dan perhatiamu telah menyentuh relung hatiku. Kamu sungguh pantas untuk menerima tahta kerajaan dari ayahmu. Kamu tidak perlu pergi kemanapun untuk menyiapkan persembahan makanan itu. Karena itu hanya buang-buang waktu, tenaga dan uang. Dari semua makanan, beras adalah yang paling tepat dan berharga dari semuanya, selain berlimpah pula. Kamu dapat menemukannya di manapun di bagian kerajaan ayahmu. Pergilah dan dapatkan beras ketan. Masaklah hingga benar-benar matang lalu bentuklah beras ketan itu sehingga bundar dan disebut Banh Day. Itu melambangkan langit di mana kita tinggal. Lalu, buatlah yang sama tetapi dalam bentuk yang kotak. Isilah di tengah-tengah kue yang berbentuk kotak (persegi) itu dengan pasta kacang kedelai dan campuran daging (babi) yang telah dicincang. Itu disebut Banh Chung, yang melambangkan bumi. Hantarkan kedua makanan itu kepada baginda raja sebagai persembahan kepada leluhur”. Setelah berkata seperti itu, kakek tua tadi menghilang.

Ketika terjaga, Tiet Lieu sangat gembira dan segera menyiapkan makanan seperti apa yang dituturkan oleh kakek tua dalam mimpinya itu. Pada hari “H” saat diadakannya pesta untuk menerima persembahan dari para pengeran itu, kakak-kakak Tiet Lieu membawa persembahan makanan yang beraneka macam dari tempat-tempat yang berbeda dan jarang ditemukan. Sedang saudara termuda hanya menyajikan makanan kue beras manis berbentuk persegi dan bundar. Setelah mencicipi kue-kue yang dipersembahkan oleh kakak-kakak Tiet Lieu, baginda raja menggelengkan kepalanya tanda ketidaksukaannya. Baginda raja sangat kaget melihat persembahan dari pangeran termuda. Kemudian baginda raja menanyakan kepada pangeran termuda, apa nama kue itu dan kenapa memilih kue itu sebagai persembahan buat para leluhur. Pangeran muda lalu menjelaskan dengan sejujurnya (apa adanya) setiap kue persembahan kepada ayahandanya.

Setelah berpikir sejenak, baginda raja memutuskan untuk memilih sajian kue dari pengeran muda sebagai persembahan kepada leluhur. Setelah acara persembahan usai, baginda raja meminta kue-kue itu dipotong dan dibagikan kepada setiap orang yang hadir untuk menikmatinya. Setelah merasakan kue itu, para hadirin menyetujui bahwa banch chung adalah sajian terenak yang sangat special dan belum pernah mereka makan sebelumnya.

Baginda raja sangat yakin untuk menyerahkan mahkota kerajaan kepada pangeran termuda, Tiet Lieu. Dengan lantang baginda raja mengatakan bahwa,

“Kue yang bundar melambangkan syurga (khayangan) dan aku namakan Banh Day. Kue yang kotak melambangkan bumi dan aku namakan Banh Chung. Beras ketan, babi, kacang kedelai, dan daunnya melambangkan binatang dan tanaman”.

Konon begitulah ceritanya dan sejak saat itu setiap datang saat merayakan tahun baru (TET) maka orang-orang Vietnam akan membuat Banh Chung dan Banh Day untuk persembahan kepada para leluhur mereka, kemudian mereka jadikan sebagai santapan special disaat TET. Sayang saya sendiri belum pernah merasakan banh chung dan banh day itu karena non-halal.
Adakah 'persembahan' dari anda buat para leluhur anda ie. pahlawan kusuma bangsa, kakek-nenek dari keluarga yang telah mendahului kita kembali ke hadlirat Allah SWT? Tentu ada, ya? Misalnya, setiap doa yang kita panjatkan sehabis sholat. [rpi]

Doc. maiviolet/hidangan Banh Chung dan Banh Day di saat TET