Wednesday, 30 January 2008

Selamat Jalan Pak Harto

Ilustrasi: Bendera setengah tiang, di Wisma Duta, KBRI-Hanoi
Menyusul wafatnya Pak Harto.
(Photo by: Raihan Khumaini/KBRI-Hanoi)


Innalillaahi wa-inna ilaihi raajiun.

Turut berduka cita dan belasungkawa atas wafatnya Jenderal Besar (purn.) Haji Muhammad Soeharto, pada hari Ahad, 27 Januari 2008, pukul 13.10 WIB, di RS Pusat pertamina, Jakarta Selatan.

Masyarakat Indonesia (masyindo) Hanoi juga berkesempatan menyampaikan ucapan belasungkawa itu sebagaimana dilakukan oleh masyindo (maupun masyarakat asing) di manapun mereka berada.

Pada tanggal 29 – 31 Januari 2008 KBRI-Hanoi memfasilitasi penyampaian dukacita dan belasungkawa itu melalui pengisian buku belasungkawa di Wisma Duta, Jalan Ngo Quyen No. 50, Hanoi.

Saya mengerti bahwa ada prokon (pro dan kontra) berkaitan dengan Pak Harto. Tetapi ketika beliau wafat, yang selayaknya dilakukan adalah melakukan takziyah dan mendoakan arwah beliau. Itu saja.

Lalu bagaimana dengan prokon? Ya, selayaknya tetap dilakukan proses yang selayaknya dilakukan secara hukum agar soal yang menjadi prokon dapat dituntaskan. Itu barangkali juga akan menjadi pembelajaran bagi bangsa kita di masa yang akan datang agar tidak menunda-nunda persoalan dan selalu menuntaskan setiap persoalan dengan (cara) sebaik-baiknya.


Selamat jalan Pak Harto. [rpi]

0 comments: