Apalagi kebiasaan (unik) yang mereka lakukan menjelang TET? Pada umumnya seminggu menjelang TET mereka pergi ke temple-temple (kelenteng) untuk melakukan ritual persembahan. Saya kurang paham, karena mereka mengaku tidak percaya kepada Tuhan (yang ghaib/tak terlihat) tetapi mereka melakukan persembahan kepada leluhur (orang meninggal/makhluk ghaib) mereka. Biasanya persis di tengah-tengah dari bagian depan halaman kelenteng terdapat tungku besar tiga kaki (the kitchen god tao). Orang-orang Vietnam memercayai bahwa ada tiga dewa yang diperlambangkan dengan tiga kaki tungku tadi. Dewa yang di tengah adalah perempuan (dewi, kali ya?). Sedang dua dewa yang lainnya adalah suaminya. Hehehe … apakah itu dinamakan poliandri? Entahlah, ikuti saja cerita saya berikut ini.
Konon cerita seputar Kitchen Gods atau dalam bahasa Vietnamnya ‘Tao Quan’ itu dari teman-teman Vietnam saya sebagai berikut. Sudah merupakan kepercayaan orang-orang Vietnam bahwa Tiga Dewa Dapur (Three Kitchen Gods) berada di setiap dapur mereka. Dewa-dewa itu mengawasi apasaja kejadian di sana (dapur dan sekitarnya).
Pada akhir tahun, menurut kalender bulan (lunar), pada hari ke 23 di bulan ke 12, dewa-dewa itu berangkat ke 'syurga' untuk melaporkan ke Ngoc Hoang, dewa tertinggi di kalangan penganut tao (Taoist Vietnam), mengenai hal-hal yang dilakukan oleh empunya dapur selama setahun ini. Biasanya di keluarga-keluarga Vietnam pada hari itu Si Tao Quan tadi diberikan makanan dan sajian. Dulu sajian itu berupa ikan (ca chep/ ca chep hong) yang diyakini sebagai kendaraan para dewa untuk menyampaikan laporannya kepada Ngoc Hoang. Namun pada saat ini ikan itu diperlambangkan dengan sesajian berupa makanan ie. buah-buahan, biskuit, permen ataupun kembang.
Alkisah bahwa pada jaman beheula (dahulu kala) hiduplah seorang tukang kayu bersama istrinya. Mereka hidup dalam kemiskinan, sehingga sering sang suami tidak mampu memberi nafkah dengan layak meskipun hanya untuk membeli makanan. Rasa frustasi dan keputusasaan membawanya untuk sering minum-minum dan memukuli istrinya. Duh … kasihan amat, istri kok tega-teganya dipukulin. Tentu saja sang istri tak mampu menahan ‘siksaan’ it uterus-menerus. Dan, pada suatu malam sang istri melarikan diri (kabur), menghilang dari tempat tinggalnya.
Berhar-hari dan berminggu-minggu sang istri mengembara di dalam hutan. Suatu ketika sang istri ini merasa sangat lapar, kelelahan, dan kakinya berdarah. Dia akhirnya mendatangi sebuah pondok (tempat tinggal) pemburu. Kebetulan pemilik pondok itu seorang pria yang baik, mempersilakan wanita itu makan dan tinggal (beristirahat) di pondok tersebut. Wanita itu menjaga pondok dan merawat kebersihannya, sehingga akhirnya kedua insan itu menikah. Wanita itu merasa bahagia dan dapat melupakan terror dari suaminya terdahulu.
Suatu ketika, ketika kedua suami-istri baru itu membakar uang dan pakaian (tentu saja dari kertas atau tiruan … hehehe) untuk leluhur mereka di sebuah tungku depan pondokan mereka, seorang pria peminta-minta datang menghampiri mereka. Wanita itu mengenali bahwa peminta-minta itu adalah suaminya (terdahulu). Karena merasa kasihan dan tidak ingin kehidupannya diusik, maka wanita itu memberikan makanan dan pakaian kepada peminta-minta yang notabene suaminya (juga) itu.
Suami baru dari wanita itu mendengar hal itu dan menaruh curiga akan kebaikan istrinya kepada peminta-minta itu. Untuk meyakinkan suami barunya akan kesetiannya, maka wanita itu melompat kedalam tungku yang membara. Mengetahui aksi itu, suami terdahulu turut menyesal dan lalu menyusul melompat ke dalam tungku. Ternyata suami yang barupun ikut-ikutan melompat ke dalam tungku itu sebagai penyesalan atas apa yang telah dipikirkannya tentang istrinya. Olala … kisah yang tragis sekali ya?
Dewa Ngoc Hoang sangat terkesan akan kejujuran ketiga orang ‘malang’ itu dan menganugerahinya sebagai Dewa Dapur (The Gods of the Kitchen).
Berdasarkan legenda itu, setiap tanggal 23 bulan ke-12 penanggalan kalender-bulan (lunar year), setiap keluarga membeli dua buah topi laki-laki (male hats), sebuah topi perempuan (female hat) dan 3 ekor ikan sejenis ikan mas berwarna merah (ca chep/ca chep hong) sebagai sesajian. Namun, saat ini, sebagaimana diceritakan di awal tulisan ini, sesjian itu telah diganti dengan makanan, buah-buahan maupun kembang. Mungkin agar praktisnya saja. Hehehe …..
Doc. pribadi/ Altar - tempat persembahan sesajian
Setelah dilakukan persembayangan, maka ikan-ikan itu akan dilepaskan kembali ke sungai atau kolam di dekat tempat tinggal mereka sebagai peruntungan. Sedangkan bila sesajian itu berupa makanan dan atau buah-buahan, maka itu akan mereka makan sendiri dengan keyakinan bahwa makanan itu telah mendapatkan berkah dari Tuhan. Oh! [rpi]
0 comments:
Post a Comment