Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari 5 tulisan sebelumnya, yang terdiri dari:
Bagian 1 – ‘Lebaran’ TET di Vietnam
Bagian 2 – Dewa Dapur
Bagian 3- Chuc Mung Nam Moi
Bagian 4 – Peach Blossoms
Alkisah. Hehehe … kayak dongeng sebelum bobo ya? Pada jaman dahulu kala, Raja Hung Vuong VI dari Dinasti Hong Bang, memutuskan untuk lengser dari tahta kerajaan setelah berhasil memukul mundur pasukan pengacau/penjajah (invader) China dari daratan Vietnam.
Tibalah saatnya bagi baginda raja untuk menunjuk pengganti raja sehingga beliau bisa menikmati sisa hidup dengan santai, santai dan santai. Nyamanlah, pokoknya. Kalau jaman sekarang mungkin hari-harinya akan diisi dengan rekreasi, main golf, berenang bareng sang permaisuri. Hehehe … ajiib banget yah?
Ya, sebagai kelanjutan dari kepustusan itu, baginda raja memerintahkan hulubalangnya untuk memanggil semua putra raja, yang saat itu sudah menjabat sebagai pangeran di beberapa bagian kerajaan. Baginda raja bertitah, “ Beberapa waktu yang lalu, para pendahulu kita telah mengabdikan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk menyejahterakan rakyat, sehingga pada saat ini rakyat dapat hidup dalam kecukupan, aman dan makmur. Saya ingin kalian semua mengingat jasa besar para pendahulu kita dan kalian harus siap untuk menunjukkan diri kalian sebagai generasi penerus yang siap dan cakap dalam memimpin tampuk tahta kerajaan”.
Baginda raja berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Sebagaimana kalian ketahui, saya sekarang semakin tua. Saya berencana menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu dari kalian. Tetapi saya belum mengetahui siapa salah satu dari kalian yang memiliki kebijaksanaan dan kepemimpinan yang pantas meneruskan tahta kepemimpinan kerajaan ini. Baiklah, saya ingin menguji kesiapan diri kalian, kiranya siapa yang paling memiliki kerendahan hati dan nurani untuk memimpin. Siapa saja diantara kalian yang dapat menyajikan persembahan yang dapat memuaskan para leluhur dan memnuhi selera saya akan menerima tahta kerajaan”
Menyusul titah baginda raja itu, setiap pangeran menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk berkelana ke pelosok-pelosok wilayah kerajaan untuk mencari makanan yang paling eksotis, tidak biasa, sebagai persembahan mereka kepada para leluhur dan baginda raja. Diantara beberapa pangeran, Tiet Lieu adalah pangeran yang termuda dan tidak berpunya alias termiskin Namun demikian, dialah yang paling mengabdikan diri kepada kerajaan dan berperilaku terpuji (budiman, rendah hati). Tidak seperti kakak-kakaknya, dia tinggal bersama ayahnya, baginda raja. Tetapi karena begitu miskinnya sehingga tidak memiliki kemampuan untuk membeli dan menyiapkan suatu hidangan yang mewah sebagai persembahan. Dia sangat sedih dan kuatir karena tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya. Itu bukan karena dia menginginkan tahta kerajaan. Dia hanya ingin membuat ayahnya senang.
Pada suatu malam ketika dia berpikir lagi bagaimana membuat ayahnya senang, Tiet Lieu kelelahan dan tertidur. Dalam tidurnya, dia melihat seorang kakek tua dengan rambut putih keperakan menghampirinya dan berkata,
“Ketulusan dan perhatiamu telah menyentuh relung hatiku. Kamu sungguh pantas untuk menerima tahta kerajaan dari ayahmu. Kamu tidak perlu pergi kemanapun untuk menyiapkan persembahan makanan itu. Karena itu hanya buang-buang waktu, tenaga dan uang. Dari semua makanan, beras adalah yang paling tepat dan berharga dari semuanya, selain berlimpah pula. Kamu dapat menemukannya di manapun di bagian kerajaan ayahmu. Pergilah dan dapatkan beras ketan. Masaklah hingga benar-benar matang lalu bentuklah beras ketan itu sehingga bundar dan disebut Banh Day. Itu melambangkan langit di mana kita tinggal. Lalu, buatlah yang sama tetapi dalam bentuk yang kotak. Isilah di tengah-tengah kue yang berbentuk kotak (persegi) itu dengan pasta kacang kedelai dan campuran daging (babi) yang telah dicincang. Itu disebut Banh Chung, yang melambangkan bumi. Hantarkan kedua makanan itu kepada baginda raja sebagai persembahan kepada leluhur”. Setelah berkata seperti itu, kakek tua tadi menghilang.
Ketika terjaga, Tiet Lieu sangat gembira dan segera menyiapkan makanan seperti apa yang dituturkan oleh kakek tua dalam mimpinya itu. Pada hari “H” saat diadakannya pesta untuk menerima persembahan dari para pengeran itu, kakak-kakak Tiet Lieu membawa persembahan makanan yang beraneka macam dari tempat-tempat yang berbeda dan jarang ditemukan. Sedang saudara termuda hanya menyajikan makanan kue beras manis berbentuk persegi dan bundar. Setelah mencicipi kue-kue yang dipersembahkan oleh kakak-kakak Tiet Lieu, baginda raja menggelengkan kepalanya tanda ketidaksukaannya. Baginda raja sangat kaget melihat persembahan dari pangeran termuda. Kemudian baginda raja menanyakan kepada pangeran termuda, apa nama kue itu dan kenapa memilih kue itu sebagai persembahan buat para leluhur. Pangeran muda lalu menjelaskan dengan sejujurnya (apa adanya) setiap kue persembahan kepada ayahandanya.
Setelah berpikir sejenak, baginda raja memutuskan untuk memilih sajian kue dari pengeran muda sebagai persembahan kepada leluhur. Setelah acara persembahan usai, baginda raja meminta kue-kue itu dipotong dan dibagikan kepada setiap orang yang hadir untuk menikmatinya. Setelah merasakan kue itu, para hadirin menyetujui bahwa banch chung adalah sajian terenak yang sangat special dan belum pernah mereka makan sebelumnya.
Baginda raja sangat yakin untuk menyerahkan mahkota kerajaan kepada pangeran termuda, Tiet Lieu. Dengan lantang baginda raja mengatakan bahwa,
“Kue yang bundar melambangkan syurga (khayangan) dan aku namakan Banh Day. Kue yang kotak melambangkan bumi dan aku namakan Banh Chung. Beras ketan, babi, kacang kedelai, dan daunnya melambangkan binatang dan tanaman”.
Konon begitulah ceritanya dan sejak saat itu setiap datang saat merayakan tahun baru (TET) maka orang-orang Vietnam akan membuat Banh Chung dan Banh Day untuk persembahan kepada para leluhur mereka, kemudian mereka jadikan sebagai santapan special disaat TET. Sayang saya sendiri belum pernah merasakan banh chung dan banh day itu karena non-halal. Adakah 'persembahan' dari anda buat para leluhur anda ie. pahlawan kusuma bangsa, kakek-nenek dari keluarga yang telah mendahului kita kembali ke hadlirat Allah SWT? Tentu ada, ya? Misalnya, setiap doa yang kita panjatkan sehabis sholat. [rpi]
Bagian 1 – ‘Lebaran’ TET di Vietnam
Bagian 2 – Dewa Dapur
Bagian 3- Chuc Mung Nam Moi
Bagian 4 – Peach Blossoms
Alkisah. Hehehe … kayak dongeng sebelum bobo ya? Pada jaman dahulu kala, Raja Hung Vuong VI dari Dinasti Hong Bang, memutuskan untuk lengser dari tahta kerajaan setelah berhasil memukul mundur pasukan pengacau/penjajah (invader) China dari daratan Vietnam.
Tibalah saatnya bagi baginda raja untuk menunjuk pengganti raja sehingga beliau bisa menikmati sisa hidup dengan santai, santai dan santai. Nyamanlah, pokoknya. Kalau jaman sekarang mungkin hari-harinya akan diisi dengan rekreasi, main golf, berenang bareng sang permaisuri. Hehehe … ajiib banget yah?
Ya, sebagai kelanjutan dari kepustusan itu, baginda raja memerintahkan hulubalangnya untuk memanggil semua putra raja, yang saat itu sudah menjabat sebagai pangeran di beberapa bagian kerajaan. Baginda raja bertitah, “ Beberapa waktu yang lalu, para pendahulu kita telah mengabdikan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk menyejahterakan rakyat, sehingga pada saat ini rakyat dapat hidup dalam kecukupan, aman dan makmur. Saya ingin kalian semua mengingat jasa besar para pendahulu kita dan kalian harus siap untuk menunjukkan diri kalian sebagai generasi penerus yang siap dan cakap dalam memimpin tampuk tahta kerajaan”.
Baginda raja berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Sebagaimana kalian ketahui, saya sekarang semakin tua. Saya berencana menyerahkan tahta kerajaan kepada salah satu dari kalian. Tetapi saya belum mengetahui siapa salah satu dari kalian yang memiliki kebijaksanaan dan kepemimpinan yang pantas meneruskan tahta kepemimpinan kerajaan ini. Baiklah, saya ingin menguji kesiapan diri kalian, kiranya siapa yang paling memiliki kerendahan hati dan nurani untuk memimpin. Siapa saja diantara kalian yang dapat menyajikan persembahan yang dapat memuaskan para leluhur dan memnuhi selera saya akan menerima tahta kerajaan”
Menyusul titah baginda raja itu, setiap pangeran menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk berkelana ke pelosok-pelosok wilayah kerajaan untuk mencari makanan yang paling eksotis, tidak biasa, sebagai persembahan mereka kepada para leluhur dan baginda raja. Diantara beberapa pangeran, Tiet Lieu adalah pangeran yang termuda dan tidak berpunya alias termiskin Namun demikian, dialah yang paling mengabdikan diri kepada kerajaan dan berperilaku terpuji (budiman, rendah hati). Tidak seperti kakak-kakaknya, dia tinggal bersama ayahnya, baginda raja. Tetapi karena begitu miskinnya sehingga tidak memiliki kemampuan untuk membeli dan menyiapkan suatu hidangan yang mewah sebagai persembahan. Dia sangat sedih dan kuatir karena tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya. Itu bukan karena dia menginginkan tahta kerajaan. Dia hanya ingin membuat ayahnya senang.
Pada suatu malam ketika dia berpikir lagi bagaimana membuat ayahnya senang, Tiet Lieu kelelahan dan tertidur. Dalam tidurnya, dia melihat seorang kakek tua dengan rambut putih keperakan menghampirinya dan berkata,
“Ketulusan dan perhatiamu telah menyentuh relung hatiku. Kamu sungguh pantas untuk menerima tahta kerajaan dari ayahmu. Kamu tidak perlu pergi kemanapun untuk menyiapkan persembahan makanan itu. Karena itu hanya buang-buang waktu, tenaga dan uang. Dari semua makanan, beras adalah yang paling tepat dan berharga dari semuanya, selain berlimpah pula. Kamu dapat menemukannya di manapun di bagian kerajaan ayahmu. Pergilah dan dapatkan beras ketan. Masaklah hingga benar-benar matang lalu bentuklah beras ketan itu sehingga bundar dan disebut Banh Day. Itu melambangkan langit di mana kita tinggal. Lalu, buatlah yang sama tetapi dalam bentuk yang kotak. Isilah di tengah-tengah kue yang berbentuk kotak (persegi) itu dengan pasta kacang kedelai dan campuran daging (babi) yang telah dicincang. Itu disebut Banh Chung, yang melambangkan bumi. Hantarkan kedua makanan itu kepada baginda raja sebagai persembahan kepada leluhur”. Setelah berkata seperti itu, kakek tua tadi menghilang.
Ketika terjaga, Tiet Lieu sangat gembira dan segera menyiapkan makanan seperti apa yang dituturkan oleh kakek tua dalam mimpinya itu. Pada hari “H” saat diadakannya pesta untuk menerima persembahan dari para pengeran itu, kakak-kakak Tiet Lieu membawa persembahan makanan yang beraneka macam dari tempat-tempat yang berbeda dan jarang ditemukan. Sedang saudara termuda hanya menyajikan makanan kue beras manis berbentuk persegi dan bundar. Setelah mencicipi kue-kue yang dipersembahkan oleh kakak-kakak Tiet Lieu, baginda raja menggelengkan kepalanya tanda ketidaksukaannya. Baginda raja sangat kaget melihat persembahan dari pangeran termuda. Kemudian baginda raja menanyakan kepada pangeran termuda, apa nama kue itu dan kenapa memilih kue itu sebagai persembahan buat para leluhur. Pangeran muda lalu menjelaskan dengan sejujurnya (apa adanya) setiap kue persembahan kepada ayahandanya.
Setelah berpikir sejenak, baginda raja memutuskan untuk memilih sajian kue dari pengeran muda sebagai persembahan kepada leluhur. Setelah acara persembahan usai, baginda raja meminta kue-kue itu dipotong dan dibagikan kepada setiap orang yang hadir untuk menikmatinya. Setelah merasakan kue itu, para hadirin menyetujui bahwa banch chung adalah sajian terenak yang sangat special dan belum pernah mereka makan sebelumnya.
Baginda raja sangat yakin untuk menyerahkan mahkota kerajaan kepada pangeran termuda, Tiet Lieu. Dengan lantang baginda raja mengatakan bahwa,
“Kue yang bundar melambangkan syurga (khayangan) dan aku namakan Banh Day. Kue yang kotak melambangkan bumi dan aku namakan Banh Chung. Beras ketan, babi, kacang kedelai, dan daunnya melambangkan binatang dan tanaman”.
Konon begitulah ceritanya dan sejak saat itu setiap datang saat merayakan tahun baru (TET) maka orang-orang Vietnam akan membuat Banh Chung dan Banh Day untuk persembahan kepada para leluhur mereka, kemudian mereka jadikan sebagai santapan special disaat TET. Sayang saya sendiri belum pernah merasakan banh chung dan banh day itu karena non-halal. Adakah 'persembahan' dari anda buat para leluhur anda ie. pahlawan kusuma bangsa, kakek-nenek dari keluarga yang telah mendahului kita kembali ke hadlirat Allah SWT? Tentu ada, ya? Misalnya, setiap doa yang kita panjatkan sehabis sholat. [rpi]
Doc. maiviolet/hidangan Banh Chung dan Banh Day di saat TET

1 comments:
hi saya aminah dari vietnam . ini blog saya buat tour di vietnam sila kan tengok dan send bagi kawan mana minat datang ke vietnam . thank you soo much
Post a Comment